Anggaran Rp171 Juta Dipertanyakan, Warga Nilai Pembangunan Tugu Perjuangan Jatiseeng Tak Transparan
Cirebon – Transparansi anggaran pembangunan Tugu Perjuangan di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, hasil pembangunan dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang tercantum dalam papan proyek.
Berdasarkan papan informasi proyek, Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengalokasikan anggaran sebesar Rp171.481.000ndengan waktu pengerjaan 50 hari kerja, yang dilaksanakan oleh CV Faqinara.
Namun, kondisi di lapangan memunculkan tanda tanya. Warga menilai pekerjaan yang dilakukan lebih menyerupai renovasi atau revitalisasi tugu lama, berupa peninggian bangunan, pemasangan pagar, serta penambahan lampu di bagian atas tugu.
Kritik tersebut ramai diperbincangkan di media sosial Facebook setelah akun Arie Nur Aeni mengunggah foto tugu yang telah selesai direnovasi di grup “Jatiseeng Membangun on The News”.
Dalam unggahannya, Arie menulis, “Maaf numpang tanya (dengan nada sopan), proyek tugu ini kok hasilnya seperti ini saja? Dengan anggaran sekitar Rp170 juta saya kira akan terlihat lebih bagus. Ternyata hanya tugu lama dilapisi bahan PVC board dan diberi lampu di atasnya. Maaf, kalau mau protes ke mana ya?”
Unggahan tersebut dalam waktu sembilan jam mendapat perhatian luas, dengan 331 tanda suka, 312 komentar, dan 10 kali dibagikan.
Dalam kolom komentar, Arie kembali menegaskan kritiknya. “Maaf, saya juga orang asli Jatiseeng. Kalau anggarannya berasal dari pajak atau keringat rakyat, harus digunakan secara amanah,” tulisnya.
Komentar itu dibalas oleh akun Yanti Surya yang menilai perlu adanya pemeriksaan. “Berarti yang perlu diaudit itu yang mana ya?” tulisnya.
Akun Bakry Brandel turut menanggapi, “Benar soal anggarannya, tapi tidak tahu habis berapa. Yang penting ada uang sakunya,” tulisnya.
Sementara itu, akun Deddy Madjmoe menyebut, “Yang harus diaudit itu proyek ini karena dikerjakan oleh DLH.”
Yanti Surya kemudian membalas, “Mungkin kepala desa, Sumarno Mohammad Tohir, yang perlu diaudit.”
Pernyataan tersebut dibalas kembali oleh Deddy Madjmoe, “Itu tidak nyambung.”
Karena namanya disebut, Kuwu Desa Jatiseeng, Sumarno Mohammad Tohir, melalui akun Facebook pribadinya memberikan respons dengan nada sindiran. “Ah itu mah, uangnya sudah habis dipakai piknik, makan-makan, beli durian, dan pencitraan,” tulisnya.
Komentar lain juga menunjukkan kekecewaan warga. Akun Ayu TriAndani menuliskan, “Ekspektasi saya, di atas tugu akan dibuat seperti Monas berlapis emas. Soalnya dananya Rp170 juta. Uang segitu cukup buat bangun rumah. Ini cuma ditambah taman sedikit, tugu dirapikan, dikasih lampu remang-remang. Masa Rp170 juta?”
Akun Atik Herlina menambahkan, “Setiap lewat pasti lihat papan anggaran Rp171.481.000. Rasanya tidak masuk akal. Ini bagaimana?”
Komentar bernada satir juga muncul dari akun 0zan Arista, “Yang mahal mungkin lampunya. Cahaya ilahi.”
Sementara akun Chiko Trakindo mengaku memiliki pertanyaan serupa. “Kemarin saya lewat situ. Setelah lihat sudah jadi, saya juga bertanya-tanya, masa seperti ini saja anggarannya besar sekali, sudah seperti harga satu unit rumah sederhana.”
